Senin, 31 Januari 2011

Badanku sehat tubuhku kuat tanpa rokok


Selain dibakar dalam bentuk rokok, tembakau juga dinikmati dengan cara lain termasuk dikunyah bersama daun sirih (nginang). Meski tidak berasap, nginang ternyata memiliki risiko kesehatan yang sama dengan merokok.
Tradisi mengunyah tembakau dikenal luas di berbagai daerah di Indonesia maupun dunia. Salah satunya di Jawa Tengah dan sekitarnya, yang populer dengan istilah nginang atau nyusur.
Saat nginang, tembakau tidak digunakan sendirian melainkan ada campurannya. Di antaranya adalah endapan kapur (Jawa: njet), buah pinang, daun gambir dan tidak lupa daun sirih.
Masyarakat meyakini, tradisi ini memberikan manfaat bagi kesehatan gigi dan mulut. Meski belum banyak penelitian tentang dugaan tersebut, kebanyakan penginang memang memiliki mulut yang sehat serta gigi yang kuat meski berwarna agak kekuningan.
Anggapan ini mungkin ada benarnya, sebab beberapa campurannya yakni gambir serta daun sirih dikenal sebagai antiseptik. Senyawa fitokimia yang terkandung di dalamnya dapat mencegah pertumbuhan kuman-kuman penyebab sakit gigi dan bau mulut.
Selain itu nginang juga menggunakan endapan kapur sebagai campuran. Endapan yang telah membentuk pasta ini mengandung kalsium, yang diyakini punya manfaat bagi kesehatan gigi dan tulang.
Sampai di sini, manfaat nginang belum terbantahkan. Namun masih ada satu komponen lagi yang pastinya kontroversial, yakni tembakau. Jika tembakau dikatakan berbahaya ketika dalam bentuk rokok, apakah hal yang sama berlaku juga dalam nginang?
Seperti dilansir dari ncbi.nlm.nih.gov, Senin (31/5/2010) sebuah penelitian pernah dilakukan oleh National Board of Health and Welfare (1997) untuk melihat hal itu. Ternyata pada smokeless tobacco (produk tembakau non-rokok) termasuk nginang, dijumpai risiko kesehatan yang sama dengan merokok meski sedikit lebih kecil.
Risiko penyakit jantung dan pembuluh darah pada smokeless tobacco meningkat 2 kali lipat dibandingkan ketika tidak mengonsumsi tembakau. Sedangkan pada rokok, risiko terebut menginkat 3 kali lipat.
Selain itu, smokeless tobacco dapat meningkatkan tekanan darah sehingga memperbesar risiko hipertensi. Hal yang sama juga terjadi pada rokok.
Karena dampak negatifnya lebih kecil, dalam hal ini nginang bisa dikatakan lebih aman dibandingkan rokok. Apalagi dampak tersebut hanya dialami oleh yang bersangkutan, tidak seperti rokok yang mengenal istilah perokok pasif.
Jika dari sisi kesehatan dampak negatif nginang sudah ditemukan, dampak negatif dari sisi lingkungan sebenarnya juga ada.
Salah satu komponen dalam nginang adalah pinang, yang mengandung alkaloid bernama arecoline. Senyawa ini akan memberi warna yang khas pada air liur saat nginang, yakni merah terang.
Kebiasaan buruk di desa-desa adalah meludah sembarangan. Dengan warna air liur yang semacam itu, kebiasaan itu tentu saja akan meninggalkan noda berupa bercak merah di mana-mana.
Sebenarnya masyarakat di Indonesia seperti di Jawa mempunyai wadah khusus untuk meludah, berupa kaleng kecil yang disebut tempolong. Masalah lingkungan akan teratasi jika saja semua orang yang nginang punya wadah semacam ini.
1 komentar

MP3 , Earphone dan Kerusakan telinga

Telinga Diskusi mengenai pertanyaan apakah gelombang electromagnet dapat mempengaruhi otak sudah merupakan debat berkepanjangan, umumnya sering ditanyakan seperti  apakah radiasi gelombang elektromagnetik pada penggunaan telepon seluler meningkatkan risiko terjadinya tumor otak ? bagaimana pengaruh terhadap pendengaran?.

Gelombang elektromagnetik berpengaruh terhadap listrik otak, namun menjadi pertanyaan seberapa besar pengaruh gelombang tersebut terhadap kerusakan otak? sampai saat ini belum ada satupun bukti medis yang kuat untuk membuktikan itu. Meskipun gelombang elektromagnetik berpengaruh terhadap otak tikus, namun tidak terbukti pada otak manusia Sampai saat ini beberapa penelitian di Eropa pada gelombang elektromagnetik terhadap tumor otak tidak dapat membuktikan efek tersebut ,
( mungkin saja karena paparan tidak cukup , misalnya 30- 40 tahun ? namun apakah ada penelitian selama itu ? ).

Mengenai pengaruh terhadap telinga, paparan musik dengan earphone dapat mempengaruhi ambang pendengaran , terutama bila dilakukan dengan volume keras dan jangka waktu lama.
Beberapa cara untuk mengurangi kerusakan pendengaran adalah : dengan mengurangi volume suara dan mengurangi waktu untuk mendengarkan dengan earphone. Namun seringkali juga orang-orang menggunakan earphone pada tempat-tempat yang ramai seperti stasiun kereta, terminal bus ,dsb, jadinya tanpa sadar cenderung untuk meningkatkan volume earphone lebih keras lagi.  Beberapa saran untuk mengurangi efek samping misalnya menggunakan headphone yang besar (tipe yang lama), sehingga suara lebih terdistribusi dan lebih menutup suara bising dari luar dibandingkan earphone yang kecil. Tipe earbuds yang kecil mempunyai speaker kecil dengan volume besar yang diletakan di lubang telinga sudah pasti memberikan efek lebih besar pada pendengaran dibandingkan dengan headphone yang hanya ditempel pada telinga luar.

Namun saran ini kurang populer, mengingat headphone besar, terlalu oldiest, sulit dibawa2 ( hal ini yang menjadi alasan kekurangan headphone, sehingga earphone kecil menjadi laris!)
Pilihan lain adalah menggunakan earphone yang kedap suara, artinya suara dari luar tidak terdengar, sehingga tidak menstimulasi pemakai untuk mengeraskan volume suara earphone saat di keramaian seperti stasiun dan  mall dan si pemakai lebih enjoying musik, namun yang menjadi permasalahan adalah harganya yang cukup mahal.
Jadi cara yang terbaik untuk mencegah kerusakan pendengaran adalah  pengontrolan diri untuk tidak mendengarkan terlalu keras dan terlalu lama. Beberapa ahli menganjurkan aturan 60% dan 60 menit, kurangi volume menjadi 60% dari yang biasanya anda dengar dan batasi hanya 60 menit perhari. Mungkin ini akan mengurangi kenyamanan , namun dapat mengurangi kerusakan sistem pendengaran di kemudian hari.
0 komentar

Pingsan berulang, apa penyebabnya....???????

Santi (nama ilustrasi ) , diceritakan oleh orang tuanya sering mengalami pingsan. Dalam sebulan ini saja ada kejadian 3 kali pingsan. Lama pingsan kurang lebih 5 menit, dan setelah pingsan pasien sadar. Bersyukur saat kejadian pingsan, ada selalu teman di sampingnya, sehingga tidak mengalami benturan kepala. Sebelum pingsan dikatakan mata rasanya gelap dan keluar keringat dingin. Di luar kejadian pingsan tadi , kondisi Santi sehat dan tidak mengeluh apapun.

Pingsan merupakan permasalahan yang cukup sering terjadi. Dalam istilah  medis pingsan termasuk dalam periodic unconciousness artinya kesadaran menurun yang periodik. Seseorang tidak sadar secara berulang dapat disebabkan oleh beberapa hal: seperti kurangnya perfusi ke otak, misalnya karena tekanan darah rendah, atau berdiri terlalu lama di tempat panas ( misalnya: upacara bendera) , atau karena kelainan jantung, seperti detak jantung yang tidak beraturan.

Pingsan mendadak dapat juga disebabkan oleh gangguan listrik di otak. Adanya listrik ' konslet' dapat menyebabkan juga pasien tidak sadar. Semakin jelas penyebab masalah gangguan listrik di otak bila sebelum pingsan biasanya pasien ' sudah merasa' mau pingsan atau ada suatu perasaan yang'beda'. Karena ganggua listrik dapat ditandai dengan adanya suatu gerakan-gerakan / kejang ( namun bisa juga tidak).

Suatu keadaan hipoglikemia sesaat atau misalnya lupa sarapan dan kemudian ada kegiatan berlebih, sehingga otak kekurangan gula, dapat pula menyebabkan suatu kesadaran yang menurun.

Penyebab lain yang juga sering dan tidak boleh diremehkan adalah : masalah psikis, bila pingsan terjadi setelah suatu keadaan emosional, hati-hati masalah psikis sebabnya. Misalnya saja , ada pasien yang pingsan setelah ribut dengan pacarnya atau pingsan setelah dimarahi oleh gurunya. Seringkali pingsan karena psikis terjadi pada wanita usia muda.

Jadi saat menghadapi kasus seperti ilustrasi di atas, harus diyakinkan dahulu apa penyebab pingsannya apakah masalah fisik atau justru psikis. Sudah barang tentu pendekatannya sangat berbeda.


Dr. Yuda Turana, SpS / RS Pantai Indah Kapuk
0 komentar
 
 

© Bluberry Template Copyright by Healthy and natural life is respect

Template by ika kartika